Wawancara atau biasa disebut dengan interview merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Adakalanya juga wawancara dilaksanakan secara kelompok kalau memang tujuannya untuk menghimpun data dari kelompok seperti wawancara dengan keluarga, pengurus yayasan, Pembina pramuka dll. Wawancara yang ditujukan untuk memperoleh dari individu dilaksankan secara individual.

Picture by law.gsu.edu
Sebelum melaksanakan wawancara para peneliti menyiapkan instrument wawancara yang disebut pedoman wawancara. Pedoman ini berisi sejumlah pertanyaan atau pertanyaan yang meminta untuk dijawab atau direspon oleh responden. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi, atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variebel-variebel yang dikaji dalam penelitian. Bentuk-bentuk pertanyaan bisa sangat terbuka, sehingga responden mempunyai keleluasaan untuk memberikan jawaban atau penjelasan secara detail. Pertanyaan-pertanyaan dalam pedoman wawancara haruslah terstrukutur. Suatu pertanyaan umum haruslah diikuti dengan pertanyaan yang lebih khusus dan lebih terurai, sehingga jawaban atau penjelasan dari responden menjadi lebih dibatasi dan dapat diarahkan.

Sebelum wawancara dilaksanakan sebaiknya disiapkan alat pencatat yang mencukupi. Alat pencatat dapat bersatu dengan pertanyaan disusun dalam satu format. Alat pencatat yang bersatu dengan daftar pertanyaan dapat memudahkan dalam pengisian, karena berada pada lembar yang sama. Dalam situasi-situasi tertentu yang membutuhkan hubungan yang lebih akrab dan rileks ataupun wawancara dengan orang penting yang punya kedudukan dan kekuasaan, kemungkinan pencatatan langsung dapat menggangu situasi atau hubungan. Dalam keadaan seperti ini coba mintalah pendapat responden apakah diperbolehkan untuk mencatat secara langsung.

Meskipun analisis data dan interpretasi data dilakukan sambil berjalan, tetapi harus dihindari analisis dan interpretasi data yang terlalu dini. Para peneliti yang belum berpengalaman seringkali tergesa-gesa untuk melakukan hal ini. Analisis dan interpretasi data diperlukan untuk merengkumkan apa yang telah diperoleh, menilai apakah data tersebut berbasis kenyataan, teliti, ajeg, dan benar. Analisis dan interpretasi data juga diperlukan untuk member jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hasil analisis dan interpretasi data akhirnya digfunakan untuk memberikan masukan bagi perbaikan kegiatan baik bagi kegiatan peneliti sendiri maupun teman satu tim. Pada akhir kegiatan penelitian, hasil analisis dan interpretasi data digunakan untuk menarik kesimpulan dalam laporan.

Teknik analisis data penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif. Analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan statistic, menghitung korelasi, regresi, uji perbedaan, dan analisis jalur. Penelitian tindakan dengan pendekatan kualitatifnya menggunakan analisis yang bersifat naratif-kualitatif. Geoffrey E. Mills (2000), mengemukakan beberapa teknik analisis data sebagai berikut: 
  1. Identifikasilah tema-tema dari data yang dikumpulkan secara induktif dari tema-tema yang besar menjadi tema yang lebih kecil
  2. Untuk setiap tema ataupun kelompok data dapat dibuat kode, umpamanya kode untuk perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, maupun hasilnya
  3. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kunci: siapa, apa, dimana, kapan mengapa?
  4. Buatlah reviuw keorganisasian dari unit yang diteliti dari visi misis, tujuan, struktur sekolah dan lain-lain.
  5. Petakan secara visual factor-faktor yang terkait atau melatarbelakangi dan diakibatkan oleh sesuatu hal. Misalnya faktor-faktor yang melatarbelakangi dan diakibatkan oleh proses pembelajaran, hasil belajar, kegagalan siswa dan lain-lain.
  6. Buatlah bentuk penyajian dari temuan dalam bentuk table, grafik dll.
  7. Kemukakan apa yang belum atau tidak ditemukan dalam penelitian, kemudian identifikasikan
Teknik Interpretasi data dapat dilakukan sebagai berikut: (1) perluaslah hasil analisis dengan mengajukan pertanyaan berkenaan dengan hubungan, perbedaan antara hasil analisis, penyebab, implikasi dari hasil analisis sebelumnya, (2) hubungkan temuan dengan pengelaman pribadi, (3) berilah pandangan kritis dari hasil analisis yang dilakukan, (4) hubungkan hasil-hasil analisis dengan teori-teori pada bab sebelumnya, (5) hubungkan atau tinjaulah dari teori yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi

Untuk melihat contoh interpretasi data silahkan anda lihat disini

Prinsip supervisi pendidikan antara lain adalah: ilmiah yang berarti sistematis dilaksanakan secara tersusun, kontiniu, teratur, objektif demokratif kooperatif. menggunakan alaf konstruktif dan kreatif. Prinsip pokok tentang supervisi modern yang mungkin bisa dipakai sebagai petunjuk bagi diskusi lebih lanjut dapat dicermati prinsip supervisi yang dikemukakan berikut.

Photo By Unisa.edu
Sutisna (1983:224) mengemukakan: (1) supervisi merupakan bagian integral dan program pendidikan, ia adalah pelayanan yang bersifat kerjasama, (2) semua guru memerlukan dan berhak atas bantuan supervise, (3) supervisi hendaknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah, (4) supevisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dan sarana-sarana pendidikan, dan hendaknya menerangkan implikasi-implikasi dari tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran itu, (5) supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf sekolah. dan hendaknya membantu dalam pengembangan hubungan sekolah-masvarakat yang baik, (6) tanggung jawab dalam pengembangan prograrn supenvisi berada pada kepala sekolah bagi sekolahnya dan pada penilik pengawas bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayahnya: (7) harus ada dana yang memadai bagi program kegiatan supervisi dalam anggaran tahunan: (8) efektifitas program supervisi hendaknya dinilai secara periodik oleh para peserta; dan (9) supervisi hendaknya membantu menjelaskan dan menerapkan dalam praktek penemuan penelitian pendidikan yang mutakhir. 

Kemudian dapat pula disimak prinsip yang mengatur pelaksanaan supervisi yang dikemukakan oleh Sergiovanni dan Starratt (1933:8) yakni: (1) administrasi biasanya berkenaan dengan pemberian fasilitas material dan pelaksanaannya; (2) supervisi pendidikan biasanya berkenaan dengan perbaikan pembelajaran; (3) secara fungsional administrasi dan supervisi tidak terpisahkan satu sarna lain, keduanya dalam system pendidikan saling berkoordinasi, saling melengkapi, saling berhubungan, dan mempertemukan fungsi-fungsinya dalam operasional pendidikan; (4) supervisi yang baik didasarkan pada fiisafat demokrasi, dan ilmu pengetahuan; (5) supervisi yang baik akan mengembangkan metode dan sikap ilmiah sejauh hal itu dapat diaplikasikan kedalam prosss sosial pendidikan yang dinamis, menggunakan ilmu pengetahuan dalam proses belajar dan pembelalaran; (6) supervisi yang baik akan mengembangkan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam mempelajari, memperbaiki, dan mengevaluasi proses dan produknya (7) supevisi yang baik adalah yang kreatif, tidak preskriptif, dilaksanakan dengan tertib, direncanakan secara koperatif, dan dilakukan dalam rangkaian aktivitas dan (8) supervisi yang baik dilakukan socara profesional, dan melakukan penilaian berdasarkan hasil yang terjamin. 

Sedangkan prinsip-prinsip yang mengatur tujuan supervisi menurut Sergiovanni dan Starratt (1933:9) adalah: (1) tujuan akhir supervisi adalah pertumbuhan murid yang pada akhirnya perbaikan masyarakat; (2) tujuan umum supervisi pendidikan adalah mensuplay kepemimpinan dalam menjamin kelanjutan dan kekonstanan adaptasi ulang dalam program pendidikan melalui suatu tahun periode; dan (3) tujuan jangka menengah supervisi adalah kerjasama mengembangkan suasana yang menyenangkan bagi pembelajaran, artinya pelaksanaan supevisi menggunakan metode-metode yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan juga kualitas belajar murid.

Dari pembahasan supervisi pendidikan pada posting sebelumnya maka dapat ditegaskan bahwa tujuan supervise pendidikan antara lain adalah (1) membantu guru-guru dalam mengembangkan proses belajar mengajar, (2) membantu guru-guru menterjemahkan kurikulum kedalam bahasa belajar mengajar dan (3) membantu guru-guru mengembangkan staf sekolah. 

Photo By calstate.fullerton.edu
Secara umum tujuan supervisi pendidikan membantu guru melihat tujuan pendidikan, membimbing pengalaman belajar mengajar, menggunakan sumber belajar, menggunakan metode mengajar, memenuhi kebutuhan belajar murid, menilai kemajuan belajar murid,  membina moral kerja, menyesuaikan diri dengan masyarakat dan membina sekolah. Adapun tujuan supervisi pendidikan menurut Peter F. Oliva (1894) adalah: (1) membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar: (2) membantu guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar: dan (3) membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah.

Jadi dapat ditegaskan bahwa tujuan supervisi menurut Saiful Sagala (2008:236) adalah untuk meningkatkan situasi dan proses belajar mengajar berada dalam rangka tujuan pendidikan nasional dengan membantu guru-guru untuk lebih memahami mutu pertumbuhan, dan peranan sekolah untuk mencapai tujuan dimaksud. Secara umum tujuan supervisi dapat dirumuskan adalah "untuk membantu guru meningkatkan kemarnpuannya agar menjadi guru yang lebih baik dalam melaksanakan pengajaran". Supervisi pendidikan memiliki dua karekter sebagai berikut yaitu: (1) bersifat terapan; dan (2) melibatkan aktivitas manusia dengan menempatkan keperluan yang unik pada inquiri dan pengembangan atau preskripsi bagi praktek supervisi.

Fungsi Supervisi Pendidikan

Supervisi mempunyai fungsi penilaian (evaluation) dengan jalan penelitian (research) dan merupakan usaha perbaikan (improvement). Menurut Swearingen fungsi supervisi pendidikan adalah mengkoordinir semua usaha sekolah, memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memperkuat pengalaman-pengalaman guna menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian terus menerus, menganalisa situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan kepada setiap anggota, mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar

Sedangkan peranan supervisi pendidikan adalah korektif, preventif, konstrukif dan kreatif dengan sasaran memperbaiki situasi belajar mengajar dan nieningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dalam berbagai aktivitasnva supervisor turut sebagai partisipan, sebagai pimpinan (leadership) dan menstimulir kerjasama antar anggota. Tujuan supervisi bukan menyodorkan suatu teori tetapi menganjurkan sesuai kebutuhan dan untuk mengungkapkan beberapa karakteristik esensial teori. Supervisi menurut Sergiovanni dan Satarrat (1983) belum memiliki teori tetapi memiliki karakteristik. Suatu teori tentang praktek memperhatikan empat pernyataan kunci yaitu realitas dalam suatu konteks tertentu, apakah yang harus menjadi realitas, apakah peristiwa yang menciptakan realitas ini berarti bagi individu dan kelornpok, dengan ketiga dimensi ini apa yang harus dilakukan oleh supervisor.

Sejalan dengan pendapat tersebut Rifar (1987:37) mereduksi rumusan supervisi dari sejumlah para ahli antara lain dikemukakan sebagai berikut: (l) supervisi merupakan bantuan untuk mengembangkan situasi belatar mengajar yang lebih baik; (2) supervisi merupakan kegiatan untuk membantu dan melayani guru agar mereka dapat melaksanakan tugas mengajarnya lebih baik, (3) supervisi adalah proses peningkatan pengajaran, dengan jalan bekerja sama dengan orang-orang yang bekerja sama dengan murid. (4) supervisi berusaha meningkatkan hasil belajar murid melaiui gurunya. (5) supervisi merupakan bagian atau aspek dari administrasi, khususnya yang mengenai usaha peningkatan guru sampai kepada penampilan tertentu, dan (6) supervisi adalah fase atau tahapan dalam adiministrasi sekolah, terutama mengenai harapan dan tujuan tertentu dalam pengajaran.

Referensi:
Syailful Sagala. 2008. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Alfabeta Bandung

Supervisi Pendidikan

Educationesia - Secara umum supervisi pendidikan berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, agar mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Supervise merupakan suatu teknis pelayanan professional dengan tujuan utama mempelajari dan memperbaiki bersama-sama dalam membimbing dan mempengaruhi pertumbuhan anak (Burton, 1995).  Supervisi sebagai bantuan dalam pengembangan sistuasi mengajar belajar yang lebih baik, supervisi ialah kegiatan yang disediakan untuk membantu para guru menjalankan pekerjaan mereka dengan lebih baik.

Supervisi sebagai aktivitas yang dirancang untuk memperbaiki pengajaran pada semua jenjang persekolahan, berkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak, supervisi juga merupakan bantuan dalam perkembangan dari belajar mengajar dengan baik (Kimbal willes, l938). Dari sudut manajerial supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinasi, dan membimbing guru secara terus menerus baik individu maupun kolektif agar memahami secara efektif pelaksanaan aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan murid secara kontinu (Boardman, 1953). Kemudian supervisi pendidikan mengkoordinasi menstimulir, dan mengarahkan perkembangan guru (Brigs, l938). 

Dengan demikian supervisi diberikan kepada guru untuk mendukung keberhasilan belajar siswa. Definisi-defenisi supervisi ini mengandung unsur-unsur tujuan yang hendak dicapai dan memiliki latar belakang adanya perubahan sosial. Secara umum kenapa supervisi pendidikan diperlukan dilatar belakangi oleh berkembangnya science dan teknologi, adanya tuntutan hak  asasi manusia, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang tidak merata, suburnya birokrasi dan sistem yang bertingkat, membantu dan membina guru-guru yang kurang bermutu, perlumbuhan jabatan, peraturan dan tuntutan Negara, cultural, filosofis. psikologis, dan sosiologis.

Supervisi meskipun mengandung arti atau sering diterjemahkan sebagai pengawasan, narnun mempunyai arti khusus yaitu "rnembantu" dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan meningkatkan mutu. Kimbal wiles (1955) menegaskan bahwa supervisi berusaha untuk memperbaiki situasi-situasi belajar mengajar, menumbuhkan kreativitas guru, memberi dukungan dan mengikutsertakan guru dalam kegiatan sekolah, sehingga menumbuhkan rasa memiliki bagi guru.

Referensi:
Syaiful Sagala. 2008. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Alfabeta:Bandung

Meskipun secara garis besar memiliki kesamaan, tetapi ada beberapa variasi langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan yakni sebagai berikut:

Identifikasi Bidang Fokus Masalah
Kegiatan diawali dengan langkah mengidentifikasi bidang focus masalah yang akan diteliti dan dikembangkan. Dalam pendidikan dan kurikulum, bidang masalah dipilih adalah yang paling besar sumbangannya terhadap mutu hasil pendidikan khususnya mutu kemmpuan dan pribadi siswa. Sedangkan dalam pembelajaran juga masih bias diidentifikasi dan dipilih beberapa fokus seperti pembelajaran, inkuiri, pemecahan masalah, konstektual, eksperiensial,. Pemilihan fokus masalah atau kegiatan yang dipilih didasarkan atas urgensi dan manfaatnya, apakah fokus tersebut cukup urgen diteliti dan diperbaiki, dan bermanfaatkah bagi peningkatan mutupendidikan.

Pengumpulan Data
Langkah kedua adalah mengumpulkan data berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang menjadi fokus masalah, umpamanya pelaksanaan metode pembelajaran pemecahan masalah dalam mata pelajaran IPS. Dalam langkah ini guru mengidentifikasi, menghimpun dokumen-dokumen, mengingat-ingat kegiatan pembelajaran serta hasil pembelajaran yang berkenaan dengan topik. Dalam tahap ini jangan lupa untuk melihat kembali fokus masalah, sebab kalau dari data-data yang dihimpun ternyata pelaksanaanya sudah baik dan hasilnya juga sudah baik, mungkin fokus masalahnya harus ganti.

Analisis Dan Interpretasi Data
Data dianalisis secara kualitatif, dalam arti diuraikan, dibandingkan, dikategorikan, disintesiskan, lalu disusun atau diurutkan secara sistematis. Hasil analisis diinterpretasikan dalam arti diberi makna tunggal atau sendiri-sendiri, gabungan, hubungan antar komponen atau aspek, maupun makna inferensial yang lebih abstrak dan umum. Langkah-langkah kegiatan penelitian tindakan bersifat spiral atau suatu lingkaran terbuka. Kegiatannya berulang tetapi dalam lingkup yang lebih luas. Langkah-langkah inipun ini bersifat dialektik, kegiatan dalam suatu langkah dilihat, dihubungkan, atau diberi masukan oleh langkah lainnya. Dalam spiral ini, tahap pengumpulan data merupakan kegiatan yang cukup penting.

Pengumpulan dan analisi data penelitian kualitatif bersifat interaktif, berlangsung dalam lingkaran yang saling tumpang tindih. Langkah-langkahnya biasanyadisebut strategi pengumpulan dan analisis data, teknik yang digunakan dan data yang telah diperoleh. Secara umum langkah-langkahnya ada kesamaan antara satu penelitian dengan penelitian lainnya, tetapi di dalamnnya ada variasi:

Perencanaan
Meliputi perumusan dan pembatasan masalah serta merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diarahkan pada kegiatan pengumpulan data. Kemudian merumuskan situasi penelitian, satuan dan lokasi yang dipilih serta informasn-informan sebagai sumber data. Deskripsi tersebut merupakan pedoman bagi pemilihan dan penentuan sampel purposif

Memulai Pengumpulan Data
Sebelum pengumpulan data dimulai, peneliti berusaha menciptakan hubungan baik, menumbuhkan kepercayaan serta hubungan yang akrab dengan individu-individu dan kelompok yang menjadi sumber data. Peneliti memulai wawancara dengan beberapa informan yang telah dipilih kemudian dilanjutkan dengan teknik bola salju. Pengumpulan data melalui interview dilengkapi dengan data pengamatan, dan data dokumen. Data dikelompokkan secara intnesif kemudian diberi kode agar memudahkan dalam analisis data.

Pengumpulan Data Dasar
Pengumpulan data diintensifkan dengan wawancara yang lebih mendalam, observasi dan pengumpulan dokumen yang lebih intensif. Sementara pengumpulan data terus berjalan, analisis data mulai dilakukan, dan keduanya terus dilakukan berdampingan sampai tidak ditemukan data baru lagi. Deskripsi dan konseptualisasi diterjemahkan dan dirangkumkan dalam diagram-diagram yang bersifat integrative.

Pengumpulan Data Penutup
Pengumpulan data berakhir setelah peneliti meninggalkan lokasi penelitian, dan tidak melakukan pengumpulan data lagi. Batas akhir penelitian tidak bias ditentukan sebelumnya seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dalam proses penelitian sendiri. Akhir masa penelitian terkait dengan masalah, kedalaman dan kelengkapan data yang diteliti. Peneliti pengakhiri pengumpulan data setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan atau ditemukan lagi data baru.



Educationesia - Bidang pendidikan termasuk rumpun ilmu perilaku, suatu rumpun ilmu yang mengkaji aktivitas manusia. Lingkup kajian aktivitas manusia sangatlah luas, mecakup aktivitas manusia sebagai individu atau kelompok, sebagai kesatuan etnis, bangsa, atau ras, dalam lingkup geografis, adminstratif atau sosial-bidaya, dalam satuan organisasi, institusi, pemerintah, berkenaan dengan kegiatan ideologi, politik, ekonomi, sosial, bidaya, pendidikan, keamanan, keagamaan, kesejahteraan masyarakat dan lain-lain.

Picture from Google

Komponen proses pendidikan hal yang harus diketahui oleh seorang pendidik yang berkaitan dengan ilmu dasar pendidikan. Penjelasan singkat tentang komponen proses pendidikan dapat saya jelaskan sebagai berikut:

Interaksi Pendidikan
Pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik. Kegiatan pendidikan diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan tertentu yang disebut tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan minimal diarahkan kepada pencapaian empat sasaran, yaitu: pengembangan segi-segi kepribadian, pengembangan kemampuan kemasyarakatan, kemampuan melanjutkan studi dan pengembangan kecakapan dan kesiapan untuk bekerja. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi anatar peserta didik dengan para pendidik serta berbagai sumber pendidikan. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi pergaulan, pengajaran, latihan, serta bimbingan. Dalam pergaulan antara peserta didik dengan para pendidik yang dikembangkan terutama segi-segi afektif: nilai-nilai, sikap, minat, motivasi, disiplin diri, kebiasaan dan lainya.

Tujuan Pendidikan
Perbuatan mendidik perlu diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, yaitu tujuan pendidikan. Tujuan-tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik itu sendiri, masyarakat, dan tuntutan lapangan kerja. Proses Pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan, pengembangan sikap dan nilai0nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri peserta didik. Pengembangan diri ini dibutuhkan untukmenghadapi tugas-tuga dalam kehidupannya sebagai pribadi, siswa, karyawan, profesional maupun sebagai warga masyarakat. Sasaran dan perbuatan pendidikan selalu normatif, selalu terarah kepada yang baik. Karena tujuannya positif maka proses pendidikannya harus juga harus positif, konstruktif, normatif.

Lingkungan Pendidikan
Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan, lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, sosial, , budaya, politis, keagamaan, intelektual dan nilai-nilao moral. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia, yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan dukungan kadang-kadang juga hambatan bagi berlangsungnya proses pendidikan. Proses pendidikan mendapatkan dukungan dari lingkungan fisik berupa sarana prasarana dan fasilitas fisik dalam jenis dan kualitas yang memadai, akan sangat mendukung berlangsungnya proses pendidikan yang efektif. Lingkungan sosial budaya merupakan lingkungan pergaulan antarmanusia, pergaulan antar pendidik dengan peserta didik serta orang-orang lainnya yang terlibat dlam interaksi pendidikan. Diantara aspek-aspek kehidupan tersebut, pendidikan menempati kedudukan yang paling sntral dalam kehidupan keluarga, sebab ada kecenderungan yang sangat kuat pada manusia, bahwa mereka ingin melestarikan keturunannya, dan ini hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

Pergaulan Pendidikan
Pendidikan bisa berlangsung dalam pergaulan hidup, dalam pergaulan ini para pendidik berusaha menjadi contoh dan memberikan perlakuan-perlakuan yang bersifat mendidik. Pergaulan pendidikan antara peserta didik dengan pendidika dapat berlangsung dalam kegiatan sehari-hari, dalam situasi pembelajaran, bimbingan, dan latihan-latihan. Juga pergaulan pendidikan bisa berlangsung antara orang tua dengan anak-anaknya dalam kehidupan keluarga dan antara orang dewasa dengan anak-anak dalam kehidupan masyarakat. Dalam pergaulan pendidikan proses pengembangan berlangsung secara informal, alamiah, dan mungkin juga tidak disadari. Proses pendidikan dalam situasi pergaulan pendidikan dalam situasi pergaulan berlangsung melalui percontohan. Para pendidik memberikan pendidikan kepada peserta didik dengan apa yang mereka perlihatkan, katakan, perbuat dan berikan.

Karena emosi terkait dengan reaksi kimiawi dalam tubuh maka setiap emosi yang dirasakan oleh anak tak ada yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengekspresikan perasaan itu. Apakah ia menggunakan kekerasan sebagai wujud ekspresi kemarahannya atau justru memendam rasa marahnya? Cara seorang anak mengungkapkan perasaanya terkait dengan kemampuan anak untuk mengendalikan diri. Tidak perlu khawatir apabila si kecil masih mengeksprsikan emosinya dengan cara yang salah. Kemampuan untuk mengelola emosi setiap anak pun berbeda-beda tergantung usia, penyebab, latar belakang keluarga, serta kondisi psikologis sat stimulasi terjadi. Kemampuan mengelola emsoi ini perlu dilatih, sama halnya dengan kemampuan si kecil untuk mengontrol anggota gerak dan benda-benda di sekitarnya.
Mari kita renungkan bersama, seorang bayi baru lahir hampir sama sekali tidak memiliki kontrol atas kaki, tangan, leher dan badannya sendiri. Ia terbaring tanpa daya, bahkan lehernya saja tidak mampu menyangga kepalanya dan harus disangga. Otot-otot dalam tubuh anak harus dilatih dan diperkuat agar ia dapat menggerakkan semua anggota geraknya. Berangsur-angsur, si kecil akan dapat menggerakkan jemari tangan, kaki, bahkan kemudian mapu berjalan dan berlari. Dari sini, dapat dimengerti apabalia untuk mengendalikan emosinya, seorang anak juga perlu untuk belajar.

Lebih baik apabila emosi itu diungkapkan dan bukannya dipendam. Perasaan yang dipendam dapat berakibat destruktif pada diri sendiri, terutama jika ada tekanan yang dirasakan oleh anak. Seto Mulyadi (2004:130 mengemukakan bahwa ada dua hal yang membuat anak tidak dapat mengungkapkan amarahnya, yaitu kemampuan berbahasnya yang belum berkembang dan pengaruh lingkungan sosial atau budaya. Selain itu, ada kemungkinan seorang anak takut untuk mengakui bahwa ia sedang marah karena ajaran orang tuanya yang mengatakan bahwa anak yang baik tidak boleh marah atau ngambek. Anggapan orang dewasa bahwa emosi negatif harus disembunyikan juga amengakibatkan anak-anak sulit mengungkapkan amarahnya. Bahkan pula orang dewasa yang masih meyakini bahwa amarah akan hilang dengan sendirinya jika dipendam. Bahkan, ada budaya dimasyarakat yang melarang seorang anak mengekspresikan amarahnya adalah salah besar.

Penting Untuk Dilakukan
Orang tua sebaiknya memfasilitasi anak agar mampu mengungkapkan perasaanya ini sekaligus bertindak sebagai mentor yang membimbingnya agar mampu mengungkapkan perasan dengan baik. Berikut cara mengungkapkan amarah secara bijak: ingat bahwa tujuan melampiaskan amarah adalah untuk mengurangi tekanan destruktif pada diri sendiri, tapi bukan untuk memindahkannya pada orang lain. Jadi sebaiknya amarah dilampiaskan pada benda matai atau dengan cara yang sedikit menimbulkan sedikit kerugian, misalnya: membuat coretan-coretan,mewarnai, melempar batu ke suangai, meninju bantal dan sebagainya.
====
Daftar Pustaka
Mulyadi Seto.2004. Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya. Erlangga: Jakarta

Tahukah anda bahwa anak-anak jatuh cinta pada orang tuanya? mereka memuja dan menjadikan orang tua sebagai idola. Para psikolog menyebutnya dengan istilah "ikatan batin". Istilah tersebut dipopulerkan pertama kali pada tahun 1950-an oleh psikiater dari inggris, John Bowlby, dan menjadi salah satu topik dari teori perkembangan manusia yang masih terus dipelajari. Ikatan batin yang terjalin antara orang tua dengan anak begitu penting artinya dalam perkembangan anak. Kasih orang tua kepada anak berperan besar untuk membantu perkembangan buah hatinya terutama secara mental dan emosional. Buah hati kita adalah seorang pemain amatir dalam hal emosi. Pada awal perkembangannya, si kecil pasti mengalami kesulitan untuk memahami dan mengelola emosi, baik emosi yang dirasakan diri sendiri maupun orang lain. Buah hati kita harus terlebih dahulu mampu memahami dan mengelola emosinya sendiri dalam bentuk mengekspresikan perasaanya sebelum mampu menjadi individu yang memahami emosi orang lain.
Photo By cesarastudillo
Kasih sayang orang tua dalam hal ini membantu mencerdaskan emosi anak karena kasih sayang seperti halnya batu landasan bangunan emosi dalam jiwa anak. Dengan memperoleh kasih sayang, perasaan terlindung dan penerimaan maka buah hati kita akan bertumbuh dengan stabil dan memiliki keberaniaan membuka diri ke luar pada orang lain. Seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua atau yang mengasuhnya, biasanya akanmengalami ketidakstabilan emosi dan menghadapi permasalahan berkaitan dengan identitas diri, penerimaan diri, maupun penerimaan terhadap orang lain. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa ketidakstabilan dalam keluarga juga berpengaruh dalam pertumbuhan anak secara fisik.

Seperti halnya buah hati kita memerlukan makanan dan minuman bagi kebutuhan fisiknya, kasih sayang orang tua mutlak diperlukan. Namun, kasih sayang pun masih perlu diimbangi dengan pola asug yang cerdas untuk membantu anak tumbuh sebagai individu yang bukan hanya "cerdas otak" tapi juga "cerdas emosi"
======
Daftar Pustaka
Kak Seto.2004. Membantu Anak  Balita Mengelola Amarahnya.Erlangga: Jakarta

Proses Penyusunan Formasi PNS tidaklah semudah yang kita bayangkan, dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mengenai penyusunan formasi PNS untuk tenaga struktural menjelaskan bahwa alur proses yang dilakukan dalam rangka penyusunan formasi PNS adalah sebagai berikut:

1.    Instansi Pusat dan daerah mengusulkan formasi PNS
2.    BKN, Kementerian Luar negeri memberikan pertimbangan teknis
3.    Menpan meminta pendapat ke Menteri Keuangan
4.    Menteri keuangan memberikan pendapat tentang ketersediaan anggaran belanja pegawai
5.    Menpan memberikan persetujuan prinsip formasi
6.    Instansi Pusat dan daerah menyampaikan rincian tambahan alokasi formasi
7.    Menpan menetapkan formasi PNS Pusat dan persetujuan formasi PNS Daerah

Untuk mengetahui penjelasan tentang alur proses penyusunan Formasi CPNS dapat dilihat pada gambar berikut:

Picture from BKN

Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa proses penyususan formasi PNS yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara sangatlah ketat dan melalui proses yang rumit, karena hal ini meyangkut masalah keuangan negara dimana pada saat ini APBD habis digunakan untuk belanja pegawai yang tentunya hal ini harus sangat dihindari. Guna pengangkatan PNS yang diharapkan sesuai dengan jabatan dan kemampuan akademik yang dimiliki maka pemerintah memberikan kesempatan dimasa moratorium sekarang ini pada pemerintah daerah untuk melakukan kajian ulang tentang formasi PNS pada tahun 2013 mendatang.

Educationesia - Riset mengenai kepemimpinan sekolah tidak mengungkapkan satu sifat tunggal yang dimilikis semua pemimpin yang berhasil, tetapi sejumlah cirri yang umum dimiliki oleh banyak diantara mereka telah didefinisikan. Syaiful Sagala (2008:149) mengemukakan bahwa kepemimpinan yang baik dicirikan oleh sifat-sifat : (1) manusiawi, (2) memandang jauh kedepan,(3) inspiratif, (4) percaya diri. Pemimpin yang manusiawi cukup penting, karena jika para guru di sekolah diperlakukan tidak manusiawi, maka kepala sekolah tersebut akan mendapat perlawanan.  Bentuk perlawanan yang paling sederhana adalah para guru tersebut tidak melaksanakan tugas professional dengan baik. Mereka datang ke sekolah hanya memenuhi jadwal yang sudah ditentukan.

Photo By Leaderphrase
Pemimpin yang tidak mempunyai visi misi sekaligus tidak percaya diri, dipastikan lembaga yang dipimpinnya tidak akan kompetitif dengan sekolah lainnya. Sekolah yang dipimpinnya hanya bergerak dalam kegiatan yang bersifat rutin. Lembaga pendidikan yang baik akan selalu memiliki pemimpin yang baik pula yaitu pemimpin yang visioner. Selanjutnya perlu ditekankan pada fokus manajemen didasarkan pada lembaga yang bersangkutan, konsensus yang kuat terhadap tujuan yang jelas dan dapat diharapkan, penggunaan waktu yang efektif, dukungan pemerintah daerah, hubungan perencanaan, sikap kolegalitas, dan komitmen organisasi yang tinggi.

Calder (1977) menyebutkan: “ ……leadership traits cannot be developed that a person is a good or bad leader because others say so” . Ciri kepemimpinan tidak dapat diubah, bahkan tidak ada kaitannya dengan upaya manajemen strategik. Cirri-ciri tertentu sebagai pemimpin memang harus dimiliki, karena: (1) seorang manajer yang tidak memiliki perhatian tentang produksi akan mengalami kesulitan untuk memimpin bagaimana memproduksi, dan (2) manajer tidak memiliki perhatian terhadap hubungan kemanusiaan akan mengalami kesulitan untuk memimpin dengan penuh kesuksesan, sementara itu, pendapat Fiedler menyebutkan hubungan-hubungan dalam kepemimpinan, yaitu (1) hubungan pemimpin anggota, (2) struktur tugas, (3) hubungan pemimpin-posisi kekuasaan. Kepemimpinan yang efektif biasanya ditopang oleh ciri-ciri kepemimpinan yang lengkap.

Metode survei dalam penelitian digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relative kecil. Populasi tersebut berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi, unit-unit kemasyarakatan, tetapi sumber utamanya tetap orang. Ada tiga karakteristik utama dari teknik survai ; 1) informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu seperti kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan dari populasi. 2) informasi diajukan melalui pengajuan pertanyaan dari suatu populasi, 3) informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.

Metode survai digunakan untuk memperoleh gambaran umum tentang karakteristik populasi, seperti kondisi masyarakat berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa, dan etnis. Metode survai banyak digunakan dalam bidang: ekonomi, bisnis, politik, pemerintahan, kesehatan, masyarakat, sosiologi, psikologi, dan pendidikan. Dalam pendidikan dan kurikulum pembelajaran, survai digunakan untuk menghimpun data tentang siswa, seperti sikap, minat dan kebiasaan belajar, hubungan dan pergaulan antar siswa, hobi dan penggunaan waktu senggang, cita-cita dan rencana karir. Data tentang keadaan dan perkembangan sekolah juga dapat dihimpun melalui survai, seperti data tentang jumlah siswa, guru, tata usaha, jumlah dan kondisi ruang kelas, kantor, laboratorium, perpustakaan, jumlah dan jenis buku.

Survai merupakan metode penelitian yang cukup popular dan banyak digunakan dalam penelitian. Nana Syaodih Sukmadinata (2005:83) mengemukakan bahwa ada tiga hal yang melatarbelakangi popularitas dan banyaknya digunakan metode survai. Pertama: metode survai bersifat serbaguna, dapat digunakan untuk menghimpun data hamper dalam setiap bidang dan permasalahan. Kedua: penggunaan survai cukup efisien dapat menghimpun informasi yang dapat dipercaya dengan biaya yang relative murah. Ketiga: survai menghimpun data tentang populasi yang cukup besar dari sampel yang relative kecil. Dalam interpretasi dan penyimpulan hasil survai, peneliti mengadakan generalisasi, dan penarikan generalisasi dimungkinkan karena sampel mewakili populasi.

Educationesia - Selain berdasarkan pendekatan dan fungsinya, penelitian juga dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Berdasarkan tujuannya dibedakan antara penelitian deskriptif, prediktif improfit dan eksplanatif. Nana Syaodih Sukmadinata (2005:18) mengemukakan sebagai berikut:

Penelitian Deskriptif, ditujukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya. Dalam studi ini para peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan-perlakuan tertentu terhadap objek penelitian, semua kegiatan atau peristiwa berjalan seperti apa adanya. Penelitian deskriptif dapat berkenaan dengan kasus-kasus tertentu atau sesuatu populasi yang cukup luas. Dalam penelitian deskriptif dapat digunakan pendekatan kuantitatif, pengumpulan dan pengukuran data yang berbentuk angka-angka, atau pendekatan kualitatif, penggambaran keadaan secara naratif kualitatif. Penelitian deskriptif dapat dilakukan pada saat ini atau dalam kurun waktu yang singkat. 
      
Penelitian Prediktif, studi ini ditujukan untuk memprediksi atau memperkirakan apa yang akan terjadi atau berlangsung pada saat yang akan dating berdasarkan hasil analisis keadaan saat ini. Penelitian deskriptif dilakukan melalui penelitian yang bersifat korelasional dan kecenderungan. Melalui penelitian korelasional, selain dapat dicari korelasi antara dua atau lebih dari dua variebel juga dapat dihitung regresinya. Melalui perhitungan regresi ini, baik regresi parsial maupun multiple dapat diprediksi dampak atau kontribusi dari satu atau lebih dari satu variable terhadap variabel lainnya. Sebagai contoh; prediksi tentang jumlah penduduk lima atau sepuluh tahun yang akan dating bisa dihitung berdasarkan perkembangan penduduk selama lima sampai sepuluh tahun yang lalu. 
      
Penelitian Improftif, penelitian ini ditujukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau menyempurnakan suatu keadaan, kegiatan atau pelaksanaan suatu program. Dalam bidang pendidikan seperti pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, evaluasi mata pelajaran, program praktik laboratorium, praktik ketrampilan, bimbingan siswa, pengawasan sekolah, layanan perpustakaan dan program pelatihan kepala sekolah, guru maupun staf administrasi. Untuk memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan program atau kegiatan digunakan penelitian tindakan, sedang untuk memperbaiki, meningkatkan atau menghasilkan program yang standar atau model digunakan penelitian eksperimental.

Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan mengenai jenis-jenis penelitian berdasarkan pendekatannya, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menjelaskan tentang jenis penelitian berdasarkan fungsinya. Secara umum penelitian mempunyai dua fungsi utama yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktek. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005: 14) jenis-jenis penelitian berdasarkan fungsinya dapat dibedakan tiga macam penelitian, yaitu penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif.

Penelitian Dasar, disebut juga penelitian murni atau penelitian pokok, diarahkan pada pengujian teori dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa menghubungkan hasilnya dengan kepentingan praktik. Penelitian ini memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan dan pengujian teori-teori. Bertolak dari suatu teori, penelitian dasar diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena alam dan social. Tujuan penelitian dasar adalah menambah pengetahuan kita dengan prinsip-prinsip dasar dan hukum-hukum ilmiah, dan meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah.  

Penelitian Terapan, penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah, mengetahui hubungan empiris dan analitis dalam bidang-bidang tertentu. Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam rumusan yang bersifat umum, bukan rekomendasi yang merupakan tindakan langsung. Penelitian ini difokuskan pada pengetahuan teoritis dan praktis dalam bidang tertentu, bukan pengetahuan yang bersifat universal. Penelitian terapan mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan praktik baru serta mendorong pengembangan metodologi. 
                                               
Penelitian Evaluatif, penelitian evaluatif difokuskan pada suatu kegiatan dalam suatu unit tertentu. Kegiatan tersebut dapat berbentuk program, proses, ataupun hasil kerja, sedangkan unit dapat berupa tempat, organisasi, ataupun lembaga. Penelitian ini dapat menilai manfaat atau kegunaan, sumbangan dan kelayakan dari suatu kegiatan dalam satu unit. Pelaksanaan penelitian evaluative membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa praktis sesuai dengan situasi yang diteliti, tetapi juga focus pada segi-segi yang berarti bagi para penentu kebijakan. Hasil penelitian evaluative kurang bersifat generalisasi, sebab evaluasi lebih terkait dengan kegiatan yang berlangsung dalam unit tersebut.

Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik dan prosedur yang berbeda. Berikut penjelasannya

Asumsi Tentang Realita
Penelitian kuantitatif didasarkan atas konsep positivisme yang bertolak dari asumsi bahwa realita bersifat tunggal, fixed, stabil, lepas dari kepercayaan dan perasaan-perasaan individual. Realita terdiri atas bagian dan unsur terpisah satu sama lain dan dapat diukur dengan menggunakan instrument. Penenilitian kualitatif didasarkan oleh konsep konstruktivisme, yang memiliki pandangan bahwa realita bersifat jamak, menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang tidak bias dipisah-pisah. Realitas bersifat terbuka, konstektual, secara social meliputi persepsi dan pandangan –pandangan individu dan kolektif, diteliti dengan menggunakan manusia sebagai instrument.

Tujuan Penelitian
Penenilitian kuantitatif bertujuan mencari hubungan dan menjelaskan sebab-sebab perubahan dalam fakta-fakta social yang terukur. Penenilitian kualitatif lebih diarahkan untuk memahami fenomena-fenomena social dari perspektif partisipan. Ini diperoleh melalui pengamatan partisipasif dalam kehidupan orang-orang yang menjadi patisipan.

Metode dan Proses Penelitian
Penenilitian kuantitatif memiliki serangkaian langkah-langkah atau prosedur baku yang menjadi pegangan para peneliti.  Penelitian kualitatif menggunakan strategi dan prosedur penelitian yang sangat fleksibel. Menggunakan rancangan terbuka yang disempurnakan selama pengumpulan data. Penelitian kuantitatif menggunakan rancangan tertutup , sudah tersusun sempurna sebelum pengumpulan data dilakukan. 

Peran Peneliti
Dalam penenilitian kuantitatif peneliti terlepas dari objek yang diteliti, malah dicegah jangan sampai ada hubungan atau pengaruh dari peneliti. Sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti lebur dalam situasi yang diteliti. Peneliti adalah pengumpul data, orang yang ahli dan memiliki kesiapan penuh untuk memahami situasi.

Konteks Penelitian
Penelitian kuantitatif diarahkan pada menemukan generalisasi universal yang bebas dari konteks situasi. Penelitian kualitatif sebaliknya meyakini pengaruh situasi terhadap hal yang diamati.

Demikianlah sedikit penjelasan dari perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif yang dapat saya sampaikan.

Penelitian Pendidikan
Educationesia - Penelitian pendidikan merupakan suatu proses yang terdiri atas beberapa langkah. Langkah ini bukan sesuatu yang sekuensial atau langkah-langkah yang harus diikuti secara kaku. Proses penelitian adalah sesuatu kegiatan interaktif antara peneliti dengan logika, masalah, desain, dan interpretasi.

Mengidentifikasi Masalah
Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi isu-isu dan masalah-masalah penting, actual, dan krusial yang dihadapi saat ini, dan yang paling banyak arti atau kegunaanya bila isu atau masalah tersebut diteliti.
Merumuskan dan Membatasi Masalah
Perumusan masalah merupakan perumusan dan pemetaan factor-faktor, atau variebel-variebel yang terkait dengan focus masalah.

Melakukan Studi Kepustakaan
Merupakan kegiatan untuk mengkaji teori-teori yang mendsari penelitian, baik teori yang berkenaan dengan bidang ilmu yang diteliti maupun metodologi.

Merumuskan Hipotesis
Hal-hal pokok yang ingin diperoleh dari penelitian dirumuskan dalam bentuk hipotesis atau pertanyaan penelitian. Rumusan hipotesis dibuat apabila penelitiannya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengolahan data statistic inferensial. Untuk penelitian kuantitatif yang menggunakan pengolahan data statistic deskriptif tidak diperlukan rumusan hipotesis, cukup dengan pertanyaan-pertanyaan pokok, demikian juga pada penelitian kualitatif

Menentukan Desain dan Metode Penelitian
Desain penelitian berisi rumusan tentang langkah-langkah penelitian, dengan menggunakan pendekatan, metode penelitian, teknik pengumpulan data, dan sumber data tertentu serta alas an-alasan mengapa menggunakan metode tersebut.

Menyusun Instrumen dan Mengumpulkan Data
Kegiatan pengumpulan data didahului oleh penetuan teknik, penyusunan dan pengujian instrument pengumpulan data yang akan digunakan

Menganalisis Data dan Menyajikan Hasil
Analisis data menjelaskan teknik dan langkah-langkah yang ditempuh dalam mengolah atau menganalisis data. Data kuantitaif dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistic deskriptif berupa table, grafik, profil, bagan, atau menggunakan statistic inferensial berupa korelasi, regresi, perbedaan, analisa jalur, dll. Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif deskriftif naratif logis.

Menginterpretasikan Temuan, Membuat Kesimpulan dan Rekomendasi
Hasil analisi data masih berbentuk temuan yang belum diberi makna. Pemberian makna atau arti dari temuan dilakukan melalui interpretasi. Interpretasi dibuat dengan melihat makna hubungan antara temuan yang satu dengan yang lainnya. Antara temukan dengan konteks atau hal-hal yang melatarbelakangi, dengan teori yang mendukungnya ataupun dengan kemungkinan penerapannya. Kesimpulan merupakan penarikan generalisasi dari hasil interpretasi temuan penelitian. Selanjutnya kesimpulan-kesimpulan yang telah dirumuskan, disusunlah implikasi dan rekomendasi atau saran.

Demikianlah langkah-langkah penelitian yang dapat saya jelaskan secara singkat, dan akhir kata semoga bermanfaat

Dapat dikemukakan beberapa karakteristik penelitian pendidikan adalah sebagai berikut:

Objektivitas
Objektivitas dicapai melalui keterbukaan, terhindar dari bias dan subjektivitas. dalam prosedurnya, penelitian menggunakan teknik pengumpulan dan analisis data yang memungkinkan dibuat interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Objektivitas juga menunjukkan kualitas data yang dihasilkan dari prosedur yang digunakan dimana dikontrol dari bias an subjektivitas.

Ketepatan
Secara teknis instrumen pengumpulan datanya harus memiliki validitas dan reabilitas yang memadai, desain penelitian, pengambilan sampel dan teknik analisisnya tepat. Dalam penelitian kuantitatif, hasilnya dapat diulang dan diperluas, dalam penelitian kualitatif memiliki sifat reflektif dan tingkat komparasinya yang konstan.

Verifikasi
Dalam artian dapat ikonirmasikan, direvisi dan diulang dengan cara berbea atau sama. Dalam penelitian kualitatif memberikan interpretasi deskriptif, verifikasi berupa perluasan, pengembangan tetapi bukan pengulangan.

Empiris
Secara umum empiris berarti berdasarkan pengalaman praktis, yang didasarkan atas kenyataan-kenyataan yang diperoleh dengan menggunakan metode penelitian yang sistematik, bukan berdasarkan pendapat atau kekuasaan. Sikap empiris menuntut penghilangan pengalaman pribadi an sikap pribadi. Sikap empiris berarti membuat interpretasi berdasarkan kenyataan dan nalar yang didasarkan atas kenyataa-kenyataan.

Penalaran Logis
Menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif atau induktif.

Kesimpulan Kondisional
Tidak bersifat absoulut, semua yang dihasilkan adalah pengetahuan probabilistik. Penelitian boleh dikatakan hanya mereduksi ketentuan.

Copyright © 2012 - Educationesia - is proudly powered by Blogger
is originaly created by Design Disease brought to you by Smashing Magazine